Tentang Kami

The Indonesian Healthcare Facilities Waste Water Treatment Plant Manufacturer Association

Tentang IPAL Indonesia

Pertumbuhan penduduk kota yang tinggi serta meningkatnya kegiatan pembangunan diberbagai  sektor menimbulkan berbagai masalah di wilayah-wilayah perkotaan yang antara lain urbanisasi, permukiman kumuh, pencemaran air limbah dan sebagainya. Permasalahan yang dialami hampir di seluruh kota di Indonesia adalah pencemaran air limbah.

Penanganan air limbah yang selama ini dilakukan belum sampai pada tahap pemikiran proses penanganan atau menggunakan ulang limbah tersebut. Penanganan limbah yang selama ini hanya dilakukan dengan cara kuratif, yaitu dengan mengolah air limbah yang dibuang ke lingkungan. Cara seperti ini kurang bisa mengatasi masalah pencemaran air limbah karena masih dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.

Berdasarkan kondisi diatas, para produsen yang bergerak di industri manufaktur instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Indonesia tergerak untuk membentuk asosiasi atau perkumpulan untuk membantu para stakeholder terkait pengolahan air limbah agar bisa memberikan kontribusi yang nyata dalam memberikan informasi dalam pengolahan air limbah yang tepat.

Dalam merencanakan suatu IPAL, maka perlu ditempuh beberapa langkah pengerjaan yang dimulai dari survai lapangan, analisa laboratorium, analisis data dan pemilihan teknologi (proses) yang akan digunakan. Jika langkah-langkah tersebut telah ditempuh baru dilakukan disain IPAL yang  direncanakan. Pemilihan peralatan perlu dilakukan dengan tepat, setiap unit alat (pompa, blower, bahan bangunan) mempunyai karakteristik yang berbeda dan harus disesuaikan dengan sifat-sifat limbah yang akan diolah serta kondisi lingkungannya.

Pemilihan proses, sistem dan spesifikasi alat yang tidak tepat atau disain IPAL yang salah akan menimbulkan berbagai persoalan di dalam IPAL itu sendiri, misalnya :

  • Biaya investasi, operasional maupun perawatannya akan menjadi mahal,
  • Sistem tidak dapat bekerja secara optimal,
  • Hasil olahan tidak seperti yang diinginkan,
  • Sulit dalam pengendalian/operasional,
  • Peralatan cepat rusak (korosi, panas, tidak awet dll). Untuk menghindari hal-hal seperti tersebut di atas, maka dalam perencanaan suatu IPAL harus dilakukan tahap demi tahap mulai dari survai sumber limbah, dilanjutkan dengan upaya minimalisasi limbah, manajemen pengelolaan limbah, sampai dengan pemilihan teknologi dan sistem IPAL yang akan digunakan.

Pemilihan teknologi pengolahan air limbah sangat ditentukan oleh karakteristik air limbah yang akan diolah serta kualitas air olahan yang diinginkan. Pemilihan teknologi yang tepat, disamping akan mendapatkan kualitas hasil olahan yang baik juga akan menghemat biaya operasional IPAL. Kualitas air hasil olahan ditentukan oleh Peraturan Pemerintah setempat dan peruntukan badan air atau sungai dimana air olahan IPAL tersebut akan dibuang.

Ikatan Produsen IPAL Fasyankes Indonesia adalah perkumpulan perusahaaan-perusahaan yang merancang, membuat dan melakukan instalasi alat pengolah air limbah berupaIPAL. Maksud dan tujuan Ikatan Produsen IPAL Fasyankes Indonesia adalah memperkuat produksi IPAL Fasyankes dalam negeri untuk menghadapi persaingan global dan mempersiapkan kemampuan ekspor.

Ikatan Produsen IPAL Fasyankes Indonesia dibentuk atas kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan limbah cair dengan menggunakan teknologi IPAL di Indonesia, sehingga para pendiri assosiasi ini memutuskan untuk membentuk sebuah wadah yang bisa menjadi partner pemerintah, swasta, dan pelanggan ke depannya untuk mendapatkan informasi serta teknologi insinerator terbaik yang diproduksi oleh perusahaan lokal di Indonesia.

Ikatan Produsen IPAL Fasyankes Indonesia berkedudukan di Jl. Cekrok No. 1 Rt 001/01, Kel. Jatirangga Kec. Jatisampurn, Kota Bekasi.

Untuk maksud dan tujuan tersebut di atas, asosiasi menjalankan kegiatan sebagai berikut :

  1. Menciptakan kebersamaan antar produsen IPAL Fasyankes.
  2. Memberikan justifikasi secara teknologi tentang keunggulan IPAL Fasyankes sebagai alat pengolah limbah cair di fasyankes.
  3. Menyampaikan pada instansi terkait mengenai keunggulan teknologi IPAL dibandingkan teknologi pengolah limbah cair lainnya.
  4. Memberikan masukan pada regulator (pembuat perundang-undangan) mengenai penerapan teknologi IPAL Fasyankes, tata cara pengoperasian dan penggunaan IPAL Fasyankes untuk pengolahan limbah cair.
  5. Menyampaikan kepada para pihak pemangku kepentingan lingkungan di Indonesia bahwa IPAL Fasyankes yang baik tidak mencemari lingkungan.
  6. Memperjuangkan konsep Green Technology sebagai pengolah limbah cair yang paling efektif, layak digunakan dan tidak mencemari lingkungan.